Mengenal Rawan Longsor dan Cara Pencegahannya
Tanah longsor adalah pergerakan tanah, batuan, atau material lainnya dari lereng yang umumnya terjadi secara tiba tiba dan tergolong sebagai fenomena geologi. Peristiwa ini sering terjadi pada musim hujan, saat curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan relatif kehilangan kestabilan. Kejadian tanah longsor sering terjadi pada banyak tempat di Indonesia, terutama di daerah dengan lereng curam dan terjal.
Pada catatan Badan Pusat Statistika Indonesia (BPS) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah terjadi 591 hingga 1.326 kali kejadian tanah longsor tiap tahunnya selama 2018 – 2023 di Indonesia. Daerah yang paling sering mengalami tanah longsor adalah Pulau Jawa barat dan Jawa Tengah.
Tahun 2025 ini pun telah terjadi beberapa bencana longsor di berbagai daerah di Indonesia seperti tanah longsor di Pekalongan, Bogor, Bali, Bima, Mojokerto, Ciamis, Majenang, dan daerah lainnya.
PENYEBAB TERJADINYA TANAH LONGSOR
Curah Hujan yang Tinggi Curah hujan yang tinggi umumnya menjadi penyebab utama tanah longsor di berbagai daerah terutama di wilayah lereng curam. Air hujan yang menyerap ke dalam tanah dapat meningkatkan berat tanah dan menurunkan kohesi antarpartikel, Jika volume air yang masuk melebihi daya serap tanah, maka kestabilan lereng akan terganggu dan bisa menyebabkan tanah longsor.
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa curah hujan 30 mm per hari atau 63 mm per tiga hari bisa memicu longsor di Pulau Jawa. Kondisi lingkungan juga memiliki kemungkinan berpengaruh terhadap kejadian longsor ini seperti perubahan fungsi lahan.
Kemiringan Lereng dan Jenis Tanah yang Jenuh Air
Lereng yang memiliki kemiringan tajam memiliki potensi longsor yang lebih tinggi karena memperbesar gaya dorong. Gaya gravitasi yang bekerja pada massa tanah di lereng terjal membuat material lebih mudah meluncur ke bawah, apalagi jika diperparah dengan kondisi tanah gembur atau jenuh air.
Beberapa jenis tanah, seperti tanah lempung, memiliki kemampuan menyimpan air yang tinggi. ketika jenuh air, tanah akan kehilangan kekuatan dan berubah menjadi licin, sehingga mudah bergerak dan menyebabkan longsor, terutama di daerah perbukitan atau pegunungan.
Penggundulan Hutan Penggundulan hutan atau deforestasi menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko longsor. Akar-akar pohon sebenarnya berfungsi mengikat tanah dan menjaga kestabilan lereng. Ketika pohon ditebang, tanah kehilangan penopang alaminya sehingga lebih mudah bergerak dan rentan longsor.
Getaran atau Guncangan Getaran dari gempa bumi, ledakan, atau aktivitas alat berat di sekitar lereng juga bisa memicu pergeseran tanah. Guncangan tersebut dapat menimbulkan rekahan dan retakan pada struktur tanah. Kondisi ini semakin berbahaya ketika tanah sedang jenuh air, karena pergerakan tanah menjadi lebih mudah terjadi.
Penggunaan Lahan yang Tidak Sesuai Pembangunan rumah, jalan, atau bangunan lain di wilayah lereng tanpa mempertimbangkan kondisi kelerengan dan sistem drainase yang tepat dapat memicu longsor. Aktivitas semacam ini sering kali membuat struktur tanah makin tidak stabil. Kegiatan lain seperti penambangan atau penggalian tanah pun turut memperbesar potensi terjadinya tanah longsor.
MITIGASI BENCANA LONGSOR Sebelum Longsor Terjadi
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan: (1) Menanam vegetasi berakar kuat untuk memperkuat tanah di lereng. (2) Melestarikan hutan. (3) menghindari penebangan pohon secara masif. (4) Membangun saluran drainase yang baik agar air hujan tidak menggenang. (5) Memetakan daerah rawan longsor dengan bantuan SIG. (6) Mematuhi RTRW dan tidak mendirikan bangunan di zona berisiko.
Saat Longsor Terjadi
Jika mulai terlihat tanda-tanda seperti retakan tanah, suara gemuruh, atau pohon dan bangunan mulai miring: (1) Segera evakuasi ke area yang lebih aman. (2) Hindari tebing, lereng curam, atau bantaran sungai. (3) Ikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan BMKG.
Setelah Longsor
Penanganan setelah longsor meliputi: (1) Melaporkan kejadian kepada pihak berwenang. (2) Tidak kembali ke lokasi terdampak sampai dinyatakan aman. (3) Mengevaluasi kondisi tanah dan vegetasi untuk mencegah longsor susulan.
Menurut Dosen Teknik Geologi UGM, Prof. Dr.Eng. Ir. Wahyu Wilopo, S.T., M.Eng., IPM, masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor perlu memahami risiko di sekitarnya, mengetahui area aman, serta mengenali jalur evakuasi terdekat. Ia menyarankan agar warga segera mengungsi jika hujan berlangsung cukup lama atau muncul tanda-tanda awal longsor.
Tanda-tandanya meliputi retakan tanah, tiang atau pohon miring, bangunan yang mulai rusak, mata air keruh di kaki lereng, serta guguran tanah atau batuan yang kadang disertai suara gemuruh.
Prof. Wahyu juga menjelaskan bahwa saat ini telah tersedia berbagai alat peringatan dini, termasuk sistem EWS buatan UGM yang sudah diterapkan di banyak wilayah dan distandarkan melalui SNI 8235:2017 serta ISO 22328-2:2024. Penting pula bagi masyarakat mengikuti informasi cuaca dari BMKG serta peta ancaman longsor dari Badan Geologi.
Penulis: Siti Fauziyah Handayani Editor: Firda Aulia Ramadanti Dokumentasi: Adhe Noegraha